Biological Scientist of Indonesia

Agustus 27, 2011

Research

Filed under: NAMA @ 3:36 am and

Bismillaahirrohmaanirrohiim,

Well,akhirnya aku bisa menulis di blog ini,dengan susah payah.

Hupft…malam Minggu ini saya jadwalkan untuk nulis di blog ini deh. Maksud hati curhat (makanya bahasanya amburadul, tidak sesuai kaidah EYD), tapi curhatnya nggak tau sama sapa, so saya tulis aja, sapa tau ada yang baca (hee…ngarep.com). Maaf sebelumnya apabila ada kesamaan nama orang, tempat dan atau institusi yang membuat tidak nyaman, karena ini memang cerita nyata tentang saya.

Sebenernya judul di atas tidak match dengan isi tulisan ini, tapi…ah biarin, toh masih bersinggungan. Sebenernya judul di atas itu saya dedikasikan untuk laporan harian-ku kelak jika melakukan penelitian. Rencananya, sih,mau ngambil doktoral degree di Germany geetu (nadanya koq pesimis amat sih?!). Tapi…(lagi-lagi…hupft).

Awalnya kekuatan kata-kata membawaku pada impian sekolah di Germany, negaranya Hitler (walaupun Hitler bukan berasal dari Germany…katanya). Yah…it’s me…suka ngomong “aku mau kuliah di Germany” sama orang-orang yang tanya, “mba mau ngapain habis lulus s2?” Jujur awalnya masuk S2 itu biar bisa jadi dosen, kayaknya koq enak ya jadi dosen?! Tetapi setelah mendengar cerita dosen-dosenku yang kuliah di luar negeri, jadi pengen tuh sekolah disana. Tujuan sebelumnya Jepang! tapi kandas, susah kontak dengan profesor di sana. Karena dalam tahap ini adalah tahapan dimana saya browsing cari profesor. Dari banyak email yang saya sebar dari benua Australia, Asia sampai Eropa (terkecuali Afrika), beberapa diantaranya dijawab. Dan yang paling tidak pelit untuk menjawab itu profesor dari Jerman. Awalnya isi emailnya adalah diskusi tentang sebuah teori dan minta referensi dan ada beberapa yang pada akhirnya saya tanya bilakah saya ikut dalam proyek penelitian mereka? dan jawabannya laboratorium penuh atau kajian saya bukan dalam wilayah kepakaran mereka setelah saya mengutarakan rencana penelitian saya. Tetapi semangat masih menyala untuk sekolah di Jerman. Tambahan lagi dapet crita kalau kuliah di Jerman itu mengasyikkan. Oke! akhirnya pilihan jatuh ke Jerman. Jerman, tunggu aku!

Dan alhamdulillah…. memang nasib membawa saya menemukan sebuah titik terang. Selepas yudisium ada informasi beasiswa dari pak Erwin (dosen lulusan Jerman) jikalau Dikti sedang mengadakan pendaftaran beasiswa ke Jerman, istilahnya debtswap. Syarat-syaratnya antara lain ijazah,transkrip, surat pengantar dari institusi, toefl itp, proposal penelitian (in English), sudah dapet profesor di Jerman. Syarat terakhir  membuat saya ketar-ketir. Usaha saya cari profesor pembimbing berlanjut. Dan lagi-lagi pak Erwin membantu saya. Beliau memberikan referensi profesor pada saya. Saya hubungi profesor itu, di samping itu, saya browse sendiri di internet profesor-profesor lain.

Dan, oke,setelah nge-search dan dapet nama profesor, saya hubungi profesor-profesor tersebut, jumlahnya lebih banyak sampai saya lupa tepatnya berapa. Kalimat dlam emailnya beragam namun isinya sama “bersediakah anda menjadi supervisor saya?”. Banyak yang tak berbalas, namun ada beberapa yang dibalas dalam satu hari “an automatic replay: out of office”. Walaupun kecewa, dalam hatiku berkata “tak mengapa jawabannya simpel yang penting dibales daripada tidak sama sekali” :D .

Setelah menunggu lumayan lama,kira-kira 2 mingguan, ada satu profesor yang bersedia jadi pembimbing, namanya Tobiasch Edda. Beliau meminta saya untuk mengirim CV dan recommendation letter (RL). Dengan semangat membara aku minta RL dari pembimbing tesisku, tanpa pikir panjang dan bertanya gimana prosedur pengirimannya, langsung saja setelah mendapat RL , aku scan dan kirim RL bersama dengan CV-ku. Hehe…apa yang terjadi? Profesor itu heran, dapet RL scan-an yang berarti saya sudah tahu isinya :D . Yah maklum saja saya baru kontak tentang hal yang seperti itu (RL) atau lebih tepatnya karena terlalu hepi dapet balesan yang isinya kesediaan profesor menjadi pembimbing, saya jadi lupa diri.Hmmm,kandas…jadi bimbingan prof. Tobiasch Edda (tapi anda menyesal tidak menerima saya Prof! kata-kata untuk melegakan hati biar legowo :D ).

Semua seperti rizki yang tiada tara dari Illahi Robbi, setelah dapat informasi beasiswa, dapat profesor, apply beasiswa dan lulus dan akhirnya saya harus menunggu…Letter of Acceptance. Ditunggu karena insufisiensi english proof. Hemmm….disuruh bersabar dan tetap bersyukur. Berpositif thinking terhadap rencana-Nya.

Penantian dan pengharapan itu masih ada sampai sekarang….

Januari 21, 2010

LAPORAN BIOLOGI SEL MOLEKULER

Filed under: NAMA @ 11:30 pm and

Teknologi DNA merupakan teknologi molekuler yang berkembang pesat. Salah satu teknik yang dilakukan dalam dunia molekuler adalah teknologi transformasi.

Transformasi dapat dilakukan pada E. coli dengan tujuan mendapatkan sel yang mengandung plasmid di dalamnya. Plasmid yang biasa digunakan dalam laboratorium adalah pUC19. Nama pUC19 merupakan singkatan dari p=plasmid, UC= University of California, 19= produk ke-19 yang dibuat oleh UC.

Sel yang berhasil ditransformasi disebut transforman. Koloni transforman ini dapat dideteksi dengan uji pada medium LB (luria Bertani) berantibiotik. Koloni transforman mapu tumbuh dalam medium tersebut.

Oktober 31, 2009

Developmental Biology

Filed under: NAMA @ 3:46 am and

STEM CELL

Pengetahuan mengenai stem sel terus berkembang dengan berkembangnya teknologi.Hal ini dikarenakan potensi stem sel yang cukup besar di bidang kesehatan. Kajian mengenai stem dapat dimulai denganmengetahui tahapan-tahapan dalam kultur untuk memperoleh stem sel. Menurut Chen et al., 2005, terdapat 8 tahapan dalam mengkultur stem sell, yaitu : kultur embrio, imunosurgeri, inisiasi dan propagasi, kriopreservasi, identifikasi sel, ekspresi OCT4, diferensiasi in vitro, dan diferensiasi in vivo.



© 2012 Biological Scientist of Indonesia   Provided by WPMU DEV -The WordPress Experts.  Hosted by Edublogs.org